Film Ayat-Ayat Cinta = Buruk!
Ditulis oleh scooterboyz di/pada Februari 25, 2008
Anda penggemar novel “Ayat-Ayat Cinta” karya Habiburrahman El Shirazy? Kalo saya, ya, bahkan tidak hanya itu, tapi semua karya Kang Abik saya suka. Pudarnya Pesona Cleopatra, Ketika Cinta Bertasbih, Dalam Mihrab Cinta dan lain-lain, mulai dari cerpen hingga novel, semua saya suka dengan karya Kang Abik. Kenapa? Selain ceritanya yang bagus, saya juga sangat jarang menemukan novel dengan seorang laki-laki sebagai pemeran utama. Walo mungkin saya ga tau tentang setting Mesirnya, tapi apabila membaca karya Kang Abik, saya selalu pengin sekolah di Azhar..
Tapi, mohon maaf sebelumnya, saya menyarankan pada anda untuk tidak menonton film Ayat-Ayat Cinta. Film ini benar-benar hanya roman picisan yang sama sekali nonsense kalo dibandingin bukunya. Film ini hanya mengambil bagian cinta saja dari buku itu. Tidak ada sama sekali pesan yang disampaikan dalam film ini. Selain itu, unsure Islami, sangat jauh dari film ini. Mungkin sang pembuat film merasa bahwa dengan setting mesir, cewe berjilbab dan ngomong arab itu sudah mencerminkan apa yang dinamakan Islam. Ternyata, nothing..

Bagi yang nekat melihat, perhatikan bagian saat malam pertama Fahri dan Aisya. Sungguh memalukan! Kang Abik saja ga menceritakan sedetail itu dan (Maaf) se”bokep” itu. Oke, anda menutupi dengan kusen jendela pada saat itu, tapi apakah tidak menimbulkan interpretasi yang aneh-aneh. Itu hanya satu dari banyak kekecewaan saya akan film ini.
Secara overall saya kecewa dengan film itu. Menurut saya, film ini memang hanya untuk komersil saja dengan mencatut nama kondang dari novel Ayat-Ayat Cinta. Sudah ditunggu lama banget sejak dulu, ternyata sangat mengecewakan. Saya sama sekali tidak merendahkan Hanung Bramantyo, bahkan saya sangat respek. Tolong jangan terlalu picisan gini kalo mau menginterpretasikan buku. Ceritakan semua bagian walau singkat dan jangan bikin alur yang berbeda.
Mungkin ada satu lagi yang ingin saya soroti dari film ini. Karena ini film yang sedikit banyak membawa nama agama, tolong dalam pemilihan pemeran lebih hati-hati. Saya melihat pemeran di film ini bukanlah orang yang “pantas”. Anda pasti tahu bagaimana kehidupan sehari-hari mereka, saya rasa mereka bukanlah orang yagn pantas untuk menjadi orang “sesuci” itu di film ini. Menurut saya masih banyak artis yang lebih pantas untuk memerankan itu.
Saya rasa, seharusnya kang Abik berhak marah melihat film ini. Alasannya? Y abaca aja di atas tadi.
Maaf apabila ada yang tidak setuju atau tersinggung. Saya hanya mengungkapkan apa isi hati saya dan tidak ada kepentingan lain. Saya juga bukan orang film, hanyalah orang awam dan mahasiswa biasa yang tidak punya kelebihan apa-apa, yang ingin mengkritisi film ini karena merasa sanngat dikecewakan. Baru sekali ini saya puas menonton film Indonesia bajakan.
Terima kasih. Salam Respek untuk mas Hanung.
Update : Maaf,terjadi kesalahan di bagi nurul,saya emang agak lupa di bagian itu.MAaf..





Februari 25, 2008 pada 8:24 am
Sapa bilang tokoh utama laki-laki jarang ada dalam novel ???
Di Blog sayah ada kok, malah seminggu sekelee terbit….
Februari 25, 2008 pada 12:44 pm
Jahhhh…. Seperti yang sudah saya diskusikan berkali-kali dengan sdr. Kopral Geddoe, komentar (baik pra maupun pasca) film ini norak. :mrgeeen:
Sebelumnya ditunggu dengan penuh sanjungan dan pujian. Setelah tayang, malah dicerca dan dikritik.
Februari 25, 2008 pada 1:04 pm
gw belom nonton
dan gak bakal nonton
dan gak bakal baca novelnya
Februari 25, 2008 pada 2:23 pm
Pribadi, setuju.
Banyak prasangka akibat M* Entertain**nt yang membuat, dan prasangka itu bukanlah karang -karangan saya semata.
Padahal, AAC ini sering dianggap sebagai film murtad sama petinggi - petinggi agama yang pakai blog dulu.
Februari 25, 2008 pada 3:45 pm
satuujuuuuu… filmnya jelek, apalagi buat yang udah baca novelnya, banyak adegan inti tapi justru ga di tampilin, terus masalah pemeran juga banyak yang ngga cocok…
jujur saya emang berprasangka jelek ttg M* Entertain**nt, tapi karena ada nama Hanung B saya tepis… tapi ternyata prasangka itu emang terbukti.. hiks hiks kecewaaa berat
Februari 25, 2008 pada 3:52 pm
ah tetep penasaran
Februari 25, 2008 pada 6:08 pm
setujuuuu.. kalok dari yang gw baca-baca…
*soale gw belum nongton*
Februari 25, 2008 pada 7:23 pm
Wah.. wah..
Novel AAC yang suci, “dikotori” filmnya nih..
Kasian kang abik…
nggak jd deng nonton di cineplexnya.
mending hunting cd bajakan aja
*penasaran mampus*
Februari 25, 2008 pada 8:36 pm
scammer kesayangan kita kembali beraksi
yang ga mo nonton di bioskop donlot ajah di Internet, udah gentayangan tuh dimana2
Februari 25, 2008 pada 10:39 pm
ini nonton di bioskop atau di rumah?
Februari 26, 2008 pada 7:06 am
hehehe…pandangan masing2 orang emang berbeda2 yah…
saya yang belum baca bukunya sama sekali dan langsung nonton justru menganggap sebaliknya
ada sy tulis di blog saya juga tuh…
tapi gpp kok, ini bagian dari proses pengamatan masing-masing, asal gak berantem aja
Februari 26, 2008 pada 7:09 am
asslmkm wr.wb
setuju! biasa lah..g akan ada pesan ISLAMI klo orientasinya cm MATERI &RATING semata..jd inget kutipan dlm Al Quran: ‘..janganlah kamu menukar ayat-ayat-KU dengan harga yang sedikit..’(Q.S Al Maidah 5:44)..terusin aja lanjutan ayatnya..merinding kalo tau..
wasslmkm.
Februari 26, 2008 pada 7:38 am
@Mblegedez
Kapan saya jadi pemerannya?
@DB dan Ontohod
UDah MD aja gitu,ditambah adanya punjabis,jadilah gitu..
@Gie
Hihi..Ke saya aja..UDah ada bajakannya..
@Phewhe
Siah ke mana aja?
@Arul
Di bioskop..
*Dengan asumsi rumahku bioskopku..
@Khalid
Hehe.. Sante..
Saya tulis ini sebagai orang yang udah baca novel lalu nonton filemnya..
@Sibermedik
Ngeri..
Sering2 aja maen ke sini..
Februari 26, 2008 pada 8:05 am
waduch…………kapan majunya negara ini jika kebiasaan buruknya (membajak) masih di budidayakan, tolong donk pada orang-orang perfilman, kasih teguran yang cukup menyakitkan., terus pada kang Abik, ana cuma bisa nyampaikan “sabar” ja ya mas.
Februari 26, 2008 pada 8:13 am
Sama…Saya Stuju Bang dengan pendapat anda……..
Februari 26, 2008 pada 10:08 am
“Contoh lain adalah permintaan untuk menikahi Nurul, tidak ada itu di buku. Yang ada hanyalah Ustad Ahmad menyerahkan surat dari Nurul dan Fahri membalasnya dengan jelas. Tidak ada Ustadz Ahmad meminta Fahri menikahi Nurul. Mana ada ustadz seperti itu.”
Anda sudah baca novelnya? Dalam novel Ayat-Ayat Cinta, Ustadz Ahmad memang meminta Fahri untuk menikahi Nurul. Kejadiannya bberapa jam sebelum Fahri melangsungkan akad nikah dengan Aisyah. Dan rasanya wajar kalo seorang paman (terlebih lagi ustadz) membantu keponakannya agar bisa menikah dengan lelaki yg ia cintai, apalagi lelaki itu baik dan sholeh.
Fahri membalas surat nurul ada di bagian lain cerita yaitu ketika Fahri sudah menikah.
Februari 26, 2008 pada 10:38 am
Ass….
Mkash infonya
memang dah denger zi ceritanya…so terrible
Piye to Pak Hanung…
Februari 26, 2008 pada 12:03 pm
Jangan salah ….justru karena bajakanlah..para artis itu bisa dikenal sampe ke ujung desa…kalau tidak…mana bisa….terkenal…paling segelintir orang yang punya doku dan mampu beli nyang aseli and nongton di bioskop kelas tinggi doang…he..he…tul kagak….
bravo bajakan…he..he…he…..
Februari 26, 2008 pada 12:03 pm
Jujur saya belum baca dan lihat filmnya , tapi ketika melihat video klip rossa keluar kami keheranan dan kecewa berat dengan cara si pemeran wanitanya mengenakan cadar, karena wanita di keluarga kami pun mengenakan cadar jadi kurang lebih kami tahu apa itu cadar dan fungsinya.
Februari 26, 2008 pada 12:12 pm
sip! aku juga kecewa bro. aku dapetnya dari blog ini : http://mtamrinh.blogspot.com/ dia juga bahas hal yang sama, tapi dia posting lebih dulu
Februari 26, 2008 pada 2:47 pm
wah, film ini cocok buat pengantar bubuk gak?
Februari 26, 2008 pada 4:14 pm
[...] Film Ayat-Ayat Cinta = Buruk!Kejanggalan Film Ayat-ayat CintaSinetron ayat-ayat cintaPesan AAC : Mending Gak Usah Nonton Daripada KecewaReview : Ayat Ayat CintaAyat-ayat Cinta, antara novel dan film [...]
Februari 26, 2008 pada 5:43 pm
Udah Laaaah….
Dari dulu juga film Indonesia tuh emang jelek.
Masabodoh lah dengan nasionalisme.. kalo jelek ya bilang aja jelek. Jangan jadi orang lemah.
–Udah liat film-nya dari ftp comlab–…
Februari 26, 2008 pada 7:57 pm
Ass,

Wah, jadi tambah penasaran mau nonton…
Setidaknya melatih leadership (berani menanggung resiko), daripada terpengaruh dari perspektif orang lain, mending buktiin sendiri dengan segala resikonya…Kalau pun agak kecewa, paling Rp 20 - 40 ribu, daripada mendukung pembajakan dan menjudge sesuatu yg blm disaksikan dgn mata hati…
Salam,
Februari 26, 2008 pada 8:15 pm
Hmm.. nontonnya yg bajakan sih!! yg bajakan itu blm diedit,,, filmnya emang aga sedikit beda dgn novelnya, coz bahasa novel dan bahasa film emang beda. Tapi Kang Abik jg bilang film ini bagus. Baca blog gw deh tentang tanggapan Kang Abik.
http://fiere.wordpress.com
http://smiledevils.multiply.com
Februari 26, 2008 pada 8:42 pm
Yup.
Saya setubuh dengan Anda. Eh, salah, saya setuju dengan Anda.
Februari 26, 2008 pada 10:54 pm
oh nonton bajakan, emang itu perilaku islami ya?
Februari 26, 2008 pada 11:13 pm
menurut sayah seh, tidak mungkin semua adegan ditampilkan, mo tau sebabnya, baca saja di http://dearestmask.blogs.friendster.com/
masalah peran, kang abik juga ikut milih, bisa dibaca juga di
http://dearestmask.blogs.friendster.com/
tapi yang patut kita acungi jempol, adalah keberanian untuk membuat film Indonesia yang tidak hanya
HOROR GAK JELAS
CINTA ABG GAK PENTING
KOMEDI DEWASA
tapi film berat yang sedikit membuka cakrawala baru bagi orang awam yang belum membaca novelnya
Februari 26, 2008 pada 11:27 pm
Saya belum nonton tapi memang agak pesimis ma film ini. Buku bagus jarang bisa jadi film bagus.
)
Tapi tetep nonton ah… biar penasaran terbayarkan (gak nonton film bajakan kok
Februari 26, 2008 pada 11:50 pm
terima kasih untuk infonya, tadinya saya sudah berniat mengajak suami nonton film ini karena sudah membaca novelnya yg sangat menyentuh. wah jadi urung deh nonton filmnya, emang agak ragu sich , sekali lagi terima kasih, jadi dana untuk nonton bisa untuk beli bahan kue :)- wass.
Februari 27, 2008 pada 12:52 am
maksudnya gimana nih??????
Februari 27, 2008 pada 12:56 am
masa’ sih segituuuu (maaf) “bokep”nya
hmm,, perlu diverifikasi dulu nih,
Februari 27, 2008 pada 1:30 am
Nonton ah. tapi ya di bioskop. masak bajakan. saya optimis filmya bagus. kenapa? karena menurut komentar di atas alur filmya sedikit beda dari alur novel. Fokus ceritanya juga pasti lain donk. nah, ini dia yang bikin saya tambah yakin filmya bagus. justru kalo sama persis kayak di novel, meski novelnya menurut saya bagus, filmnya jadi ga bagus. Makin ga sabar……
Februari 27, 2008 pada 5:26 am
mas,
ane juga sedih banget ini..
masalahnya, ane berekspektasi besar sama film a2c sejak terbit novelnya kan udah dijanjikan..
duh, sayang banget deh…
kalo ane pikir,, bikin film adaptasi novel begini adalah sebuah pekerjaan yang berat…banget
kalo Da Vinci Code yang adaptasi juga sih , masih lumayan bagus, itu karena PH mereka yang punya biaya banyak..
lah PH kita bagemana?
pilem cuma cinta-cinta-horor-cinta lg-horor-horor…
paling bagus cuma nagabonar ama denias…bagus banget (justru yang begini bakal laris di oscar)
ana pengen nunggu lagi neh..film2 begitu..
Februari 27, 2008 pada 6:27 am
[...] Film Ayat-Ayat Cinta = Buruk! Kejanggalan Film Ayat-ayat Cinta Sinetron ayat-ayat cinta Pesan AAC : Mending Gak Usah Nonton Daripada Kecewa Review : Ayat Ayat Cinta Ayat-ayat Cinta, antara novel dan film [...]
Februari 27, 2008 pada 7:23 am
salam bang..
film ayat2 cinta lon sy nonton,tp dgn cara qt men-judgement karya itu sy pikir apa gk Su’uzhan?,padahal klo qt melihat dr titik cerahnya disitu terdapat unsur syiar Islam.
Nih!,slh satu knp bangsa qt sering terpuruk,bkn krn intervensi pihak lain,tp intervensi intern adanya..krn qt krng menghargai hasil karya ank bangsa..So!,kpn maju perfilman qt?,thq y bang..nih bkn kritik tp pencerahan aja,biar tmn2 yg lain yg maybe krg mengerti hal nih gk slh nanggap.
Februari 27, 2008 pada 7:54 am
asZ,, SaLam Ukhuwah Dari UKhti MIe…
Saya seTuju dg Apa yAng di Tulis oleh ScooterBOyz,,YaP memAng Benar FiLM yang DitayangKan Tidak SEsuai dg Pa Yg tertulis DLm noVel kang Abik..
“kang sabar weh nya,,!!!” jgn prnh bosan bwt nyiptain novel” yang berbau ISLAMI,,,,,,,,,,”
kalau gak mau dikecewain,biar aku Z yg jd SUTRADARA’y h3……h3……h3………wasS
Februari 27, 2008 pada 8:03 am
lebih buruk dibANDINGKAN ‘HANTU AMBULANCE’…SUZANA RETURN…
Februari 27, 2008 pada 8:40 am
Mengenai film tersebut saya kira bagi yang sudah pernah membaca novelnya mungkin sebagian besar akan kecewa,tapi hal itu lumrah,susah melepaskan hasil imajinasi dari membaca novel dengan alur cerita pada film.Novel ya novel,film ya film.Film tersebut tentu saja hasil imajinasi dan kreativitas dari sang sutradara,Hanung. Dan yang menarik dari film tersebut bagi saya adalah setiap adegan yang tidak terdapat pada novel.Bahkan Hanung menampilkan sedikit lelucon mengenai poligami yang membuat penonton tertawa.Overall, I enjoyed it.Jangan ambil pusing mengenai nilai dakwah dalam film tersebut.It’s a movie,suatu hiburan,nikmati saja.
Februari 27, 2008 pada 9:24 am
Sorry..Ini bukan comment tapi curhat…hehehe..
aku bukan penggemar novel2 kang abik tp dah baca beberapa novelny soalny aku baca novel2 tuh karna aku suka baca jadi y baca aja.. so secara pribadi sech aku gak suka baca karya2 kang abik ( Gak gue banget gitu loch… aku lebih tergila2 ama karya andrea hirata sech…ngegemesin banget) Tapi jujur nich karyanya bagus…kata2 yang dipilih ehmm..indah.. Trus kalo filmny belum nonton.. belum diputar d Bjm sech.. pengen nonton ntar kalo dah main.. kalo nonton bajakan enggak ah.. (we are original community..hehehe) Ntar kalo dah nonton insyAllah kasih comment dee.. Cuma waktu liat Rosa nyanyiin ost AAC di TV..wew..aku sebel banget jadi males denger n liat. Maaf mbak Rosa bukannya suara mbak jelek tapi kayaknya mbak belum dapet feel n soul nya untuk nyayi lagu2 religius deh.
Februari 27, 2008 pada 9:25 am
Wah…mas, kalo dibikin lebih ilmiah lagi kritikannya, maksudnya dimasukin dari sisi teknik dll, bisa masuk ke ajang citra bagian kritik terbaik nih ^__^.
Februari 27, 2008 pada 9:42 am
film & novel pasti beda… alur dan kejadian novel karena cma tulisan jadi kita punya pemikiran dan gambaran bebas mengnai situasi tersebut. kalau film, cuma sebagian presentasi dari individu tertentu jadi banyak yang gak sesuai. Yah, biar begitu bagus lah Mas Hanung itu sudah mau mensutradarai film2 yang murahan kayak setan2 kredit itu & cinta ABG gak jelas. Meskipun hasilnya banyak yang mengecewakan pemirsa… namanya juga manusia…
Februari 27, 2008 pada 9:43 am
edit, mas hanung mau mensutradarai film2 yg gak murahan maksudnya… he2
Februari 27, 2008 pada 9:47 am
setuju!
selama nonton saya ga berenti ngoceh..
kenapa filmnya jauh bgt ma novelnya.
saya kecewa.
ga sebanding bgt novel ma filmnya..
Februari 27, 2008 pada 9:47 am
tapi lightingnya lumayan keren..
Februari 27, 2008 pada 11:39 am
di Bandung kan belum tayang.. hayoo pasti dapet dari server portalnya ITB yaah??
enak banget siy komplit mau download apa aja dari film dorama sampe film indonesia aja ada…
bagi - bagi donk ke kampus tetangga
sudah pernah baca cerita di balik layar pembuatan AAC di blognya mas Hanung? katanya niy.. sang produser meminta agar lebih ditonjolkan unsur romansanya, seperti film Kuch2Hotate *bollywood punya* hohoho kasihan sang sutradara
Februari 27, 2008 pada 11:43 am
hmm..bagusss…tpi kayanya ceritanya g jauh berbeda dengan crita cinta di film yang lain tuchh..gampang bgt ketauan alurnya
Februari 27, 2008 pada 12:02 pm
Untung gue belon nonton ….
Mending baca novelnya aja ya kang kalo nonton nanti malah merusak imaginasi yang sudah tetanam diotak
Februari 27, 2008 pada 12:39 pm
mungkin kalo novelnya dibuat untuk mempertebal keimanan pembacanya ya..
tapi kalo film buat keuntungan aja
jadi hasilnya jelek gak barokah..wekeke
Februari 27, 2008 pada 12:54 pm
Aku masih penasaran dengan film ayat-ayat cinta itu walaupun katanya jelek, tetapi klo membaca novelnya ya…….. bagus bngt jd penasaran dengan filmnya jg… walaupun ktnya buruk dan apakah bnr2 g’sama dengan yang ada di novelnya???
Februari 27, 2008 pada 1:02 pm
aq nie adalah salah satu Fans beratnya novel ayat-ayat cinta. aq dah berapa kali baca novel itu tapi sumpah asyik banget. jadi penasaran pengen lihat giman filmnya. soalnya dari dulu aku tunggu- tunggu banget. tapi kalau kayak gitu kenyataannya aku gak rela.
Februari 27, 2008 pada 1:06 pm
nurut aku ayat-ayat cinta pada bagian akhir ketika maria mati, dan mengalunkan ayat2 dari surat maryam, adalah pokok penting. tapi bagian itu jadi hilang, terasa sekali kurangnya. dan memang banyak kurangnya… tetapi imaginasi setiap orang setelah baca buku itupun tidak sama, karena pemahaman dan referensi akan kedalam pengetahuan agama tiap orang juga berbeda..
bagus sudah mengangkat ke film, tapi tetap aja ini ngarahnya cari untung juga. tapi setidaknya kita bisa mendiskusikan, menceritakan ke setiap orang tentang wacana yang diangkat oleh habiburrahman. kalo bisa, imam samudera suruh liat film atau baca novelnya, terutama pada bagian fahri yang menjelaskan orang luar yang berada di negeri kita….
Februari 27, 2008 pada 1:10 pm
sama kaya yang diceritakan sama temen2 aku, katanya film ayat-ayat cinta jauh dari jalur cerita di novelnya. tapi aku tetap penasaran pengen nonton.,, ingin ngebuktiin sendiri.,, meski nantinya mengecewakan…
Februari 27, 2008 pada 1:26 pm
mungkin ini bisa bantu ngejawab
http://hmcahyo.wordpress.com/2008/02/25/mengapa-film-ayat-ayat-cinta-beda-dengan-novelnya-2/
Februari 27, 2008 pada 3:02 pm
Seberapa bagusnya siy itu buku sampai harus men’suci’kannya.. saya justru lebih malu baca tulisan ini.
Maaf yaa, ga ada tendensi apa-apa, cuma mengingatkan aja bahwa AAC baik buku maupun film adalah karya manusia, ga ada satupun yang pantas disucikan. Kesalahan interpretasi adalah hal yang biasa di film-film, liat aja Davinci Code, Harry Potter, bahkan GodFather yang sangat monumentalpun bagi yang baca buku aslinya bilang jauh lebih bagus (sorry patokannya film barat semua, lebih karena kualitas mereka dalam mengadaptasi suatu buku kedalam film).
Mungkin cukup disorot sisi message buku yang tidak terwakili, tanpa harus mensucikan buku maupun tokoh-tokoh yang didalamnya.
IMHO
Februari 27, 2008 pada 3:52 pm
Ya, namanya buatan manusia pasti ada kurangnya. Novelna saja pasti nggak semua orang bilang bagus (sampai perlu dikatain pembangun jiwa segala). Mungkin ada baiknya juga kita melihat dari sisi si sutradara (tengok juga lah blog-nya Hanung), mengapa sampai dia buat film seperti itu. Dan tentu saja yang buat film kan satu tim bukan cuma sutradara seorangdiri. Pastilah banyak pertentangan kepentingan juga.
Februari 27, 2008 pada 4:58 pm
Belon baca thong… filmnya juga belon. Jadhe tambah penasaran…
Februari 27, 2008 pada 5:31 pm
wah mending beli bukunya aja, kagak usah filmnya “anjuran sih.
semangat!!!
Februari 27, 2008 pada 5:42 pm
Di bandung udah ya ? Bukannya masih di plaza senayan doang ? Ato ngeliat bajakan ? Wah sayang kalo ngomentarin karya orang setelah sukses ngebajaknya
Dari dulu mana ada sih film yang bisa nyamain bukunya. Kan buku gak ada durasi ! Ato harus kaya LOTR yang berusaha nyamain bukunya (walau masih kurang sana-sini) tapi hasilnya 3 x 3 jam
Februari 27, 2008 pada 5:42 pm
gw juga masih penasaran ma ni filmnya euy…secara bukunya udah gw lahap..pdhl dulu gk begitu tertarik…..
Februari 27, 2008 pada 5:45 pm
Nonton film luar negeri aja…
Mubadzir tuh uang dipake nonton film gituan di bioskop.
Lebih baik uangnya dipake kegiatan lain atau diamalkan saja ke masjid. Bukan begitu ???
Februari 27, 2008 pada 5:59 pm
Memang dari dulu kalo novel dibajak ke film pasti mengecewakan pembaca novel yg asli, lha wong bisa berubah banyak, pokoknya ceritanya pasti gak selengkap novelnya. Tapi jangan banyak-banyak komentarnya krn gw lg baca novelnya, he he he
Februari 27, 2008 pada 6:00 pm
setuju,,
q br lihat triler_nya ja dah ga srek sperti novelnya,,,pa lagi film_nya…….
ah payah,,
kecewa beeeeeraaaaaaaaaaaaaaatttttt!!!!!!!!
maleeeezzzzzzzzzzzzzz,,,y klo dikit ja perbedaanya,tapi dr sekilas berbeda banget dari novel yang q baca,,,,
Februari 27, 2008 pada 7:26 pm
wew…
komentarnya kok jadi panjang gini ya…
aq jadi bingung….
sebenernya c klo menurutq semua film yang diadaptasi dari novel.. alurnya emang harus lengkap seperti yg di novel… biar inti ceritanya ga ada yang berubah… tapi jangan sampe dijadiin sinetron ya…. (anti sinetron Indonesia)
*tapi tetep penasaran walaupun dah nonton yg belum direvisi :P*
Februari 27, 2008 pada 7:32 pm
Yaelah mas-mas, nonton koq yang bajakan.
“Film Ayat-Ayat Cinta, sekalipun di bajakan bisa diikuti jalan ceritanya, tapi bukan kualitas terakhir dari sutradara-producer dan kru serta pemain. Artinya belum ada music yang layak (Masih musik kasar yang diambil dari film Schindler list, Kamasutra, Pasion of Christ, dsb), belum ada tata suara yang mendukung seperti suara Ustadz Jefri melantunkan ayat dan doa, suara Fahri di masjid Al Azhar saat Talaqi masih suara cewek, suara-suara atmosfer lalu lintas di Kairo juga belum masuk. Pendeknya, hasil dari bajakan tersebut belum layak untuk menjadi bahan apresiasi penonton. Jika sudah begitu, apakah penonton juga layak menilai sebuah produk yang memang belum layak untuk di apresiasi?” (http://hanungbramantyo.multiply.com/journal/item/12/AAC_BAJAKAN)
Februari 27, 2008 pada 8:18 pm
Assalamu’alaikum…
Saya salah satu penggemar novel karya kang abik juga, dan subhanalloh hampir semua karya kang abik menyadarkan saya seperti apa islam yang sebenarnya. Saat saya tahu Ayat-ayat cinta hendak difilmkan, saya juga agak kecewa. Karena tulisan dengan film sangat berbeda. terutama dalam peran2 yang dilakukan. Kalo novel bisa saja itu hanya karangan dan pada kenyataannya itu hanya cerita. sedangkan dalam film, sebuah adegan meskipun itu bohongan pada kenyataannya adalah sesuatu yang memang terjadi. Karena itu, tidak terbayangkan oleh saya seandainya sebuah adegan yang memang seharusnya dilakukan(maaf) oleh seorang suami-istri dilakukan juga dalam film tersebut.
Apalagi film ini merujuk pada sebuah novel yang bisa dibilang Islami.
Tetapi disamping itu, mengetahui seperti apa latar belakang di filmkannya Novel ini, saya juga merasa sangat terharu dan resfect terhadap Sutradara. Saya yakin niat beliau sebenarnya mulia, dan mudah-mudahan Alloh memudahkan beliau dalam mencapai niat yang mulia tsbt.
Saya belum pernah melihat secara langsung film ini, tapi mudah2an apa yang saya khawatirkan tidak terjadi.
Februari 27, 2008 pada 10:07 pm
Di Bandung udah tayang sejak tgl 25 februari, gw jg uda nonton.
Jangan bandingkan film ini dengan novelnya, coz kalian pasti akan kecewa dan bilang ”Film yg jelek”. Lihatlah film ini sebagai film baru yg tdk ada kaitannya dgn novelnya. Kalau dibandingkan dgn novelnya, jelas filmnya sangat berbeda. Tapi secara keseluruhan, film ini BAGUS banget, bahkan bisa membuat mata Qt berkaca-kaca. Walaupun unsur islaminya sedikit dan alurnya aga berbeda, tapi film ini menyuguhkan rasa yg berbeda. Tidak seperti film2 cinta dan hantu yg memuakan. Jika kalian berharap film ini bisa seindah novelnya, maka kalian adalah orang yg menginginkan kesempurnaan. Dan Qt semua tahu bahwa kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Begitupun dgn film ini, dibuat dgn niat yg baik oleh seorang Hanung yg masih belajar dan bukan org yg bisa membuat sesuatu dgn sempurna. Harusnya Qt bangga, karena film ini film agama. Daripada Qt trz disuguhi film horror yg menonjolkan perbuatan syirik. Apa bedanya Qt dgn org2 jahat jika Qt mencaci hasil karya dari seorang yg berniat baik? Astagfirullah.. didunia ini tdk ada yg sempurna, Mas Hanung pun hanya manusia yg masih dalam proses pembelajaran. Toh sekalipun Kang Abik yg membuat film ini, tdk akan seindah coretan penanya. Astagfirullah…
http://profiles.friendster.com/peermannoer
Februari 27, 2008 pada 10:14 pm
bener juga. aku sudah liat filmnya sekilas. nggak sampe selesai. trus aku penasaran sama novelnya. apa beneran ceritanya kayak gitu?
setelah novel ayat-ayat cinta itu kubaca, jelas, jauh beda dengan filmya (yang kutonton nggak sampe separo itu).
banyak adegan yang ilang. yang menurutku itu malah bagus dinovelnya.
aku sarani, bagi yang belum liat filmnya dan belum baca novelnya, mending baca novelnya dulu. bagus banget…
di film tersebut kurang islami. padahal dinovelnya sangat islami dan mengharukan
Februari 27, 2008 pada 10:59 pm
ehmm..
ikyut NimBrung yach
aq sih dah baca Novelnya,
filmnya belon sempet nonton
*INsya Allah I’ll dech… :-)”
Meskipun film ini kurang sesuai dan belum mampu menginterpretasikan isi novel dan misinya, paling enggak menjadi tontonan berbeda yang disuguhkan di bioskop.
Maksudnya, dari pada menghujat dan mencerca habis-habisan, itu loh… masih banyak pilem2 lain yang kurang bermutu. Horor ga masuk akal, sampai mengulang cerita pilem jaman baheula, dan mengajak kembali sang pemeran utama yang sekarang dah nenek-2.
(makanya, dunia pilem Indonesia emang bener2 bangkit dari kubur). Jadi meskipun bangkit, yaa areanya tetep dech, di kuburan… nggak kemana2..
Februari 28, 2008 pada 12:22 am
[...] masyarakat yang sudah menonton memang berbeda, ada yang memuji, mengkritik, kecewa, dan menghujat. Saya sendiri ingin memberikan kritik, namun rasanya tidak sah karena saya [...]
Februari 28, 2008 pada 9:25 am
smp sgitu nya?
mang bener2 beda dr novelny yach?
aq sich lom sempet nonton pilemnya
klo novel sich dah baca
smp mewek2 malah bacanya.
Februari 28, 2008 pada 10:09 am
Namanya juga film kalau nggak mengikuti selera pasar ya nggak laku. Cuma masalahnya selera pasar itu bisa diarahkan. Lantas siapa sebenarnya yang b ermain dibelakang layar dengan mendompleng nama novel “ayat-ayat cinta”.Kalu bkan tangan panjang kapitalis siapa ya lagi. Jangankan novel, ajaran Agama sekalipun akan dipilah-pilah sesuai mekanisme dan kebutuhan pasar.Ayat-ayat cinta juga diambil yang sedang dimaui pasar konsumen dengan “moral rendah” maka yang diambil bukan nilai luhr spiritualitas namun nilai renah peradaban Barat. Tanya kenapa ?
Februari 28, 2008 pada 10:16 am
klo komentar aku sih film ayt2 cnta sih biasa aja gak ada lebihnya daripada film nya mendingan kita baca saja langsung bukunya lebih menggugah jiwa,menyentuh hati tentang pemaknaan cinta kpd sesama dan sangat bagus……banget!!! pokoknya ceritanya gak ada tandinganya dech,
Februari 28, 2008 pada 10:35 am
Namanya juga film kalau nggak mengikuti selera pasar ya nggak laku. Cuma masalahnya selera pasar itu bisa diarahkan. Lantas siapa sebenarnya yang b ermain dibelakang layar dengan mendompleng nama novel “ayat-ayat cinta”.Kalu bkan tangan panjang kapitalis siapa ya lagi. Jangankan novel, ajaran Agama sekalipun akan dipilah-pilah sesuai mekanisme dan kebutuhan pasar.Ayat-ayat cinta juga diambil yang sedang dimaui pasar konsumen dengan “moral rendah” maka yang diambil bukan nilai luhr spiritualitas namun nilai renah peradaban Barat. Tanya kenapa ? http://susiyanto.wordpress.com
Februari 28, 2008 pada 10:44 am
setuju!!!! mereka bukan pemain2 yg pantas untuk memerankan peran2 itu….
Februari 28, 2008 pada 10:55 am
dari membaca 10 lembar halaman pertama novelnya saja, saya sudah memastikan bahwa dari segi sastra novel itu buruk sekali.
kata-kata “BAU NERAKA” yang membuat saya illfeel ketika membacanya.
-IT-
Februari 28, 2008 pada 11:27 am
filmny bguz c??
tp ngebetein yah,,,mndngn ntn film horor w,,,
Februari 28, 2008 pada 11:31 am
jadi menurutmu, novel dan film itu harusnya sama persis?
silakan cek, sekelas LOTR dan HARRY POTTER aja gak sama persis antara film dan bukunya. Apa kira-kira para sineas itu terlalu bodoh ya?
Februari 28, 2008 pada 5:42 pm
Artikel di blog ini sangat menarik dan bagus. Anda bisa lebih mempromosikan artikel Anda di infoGue.com dan jadikan artikel Anda Topik yang terbaik bagi para pembaca di seluruh Indonesia. Nantikan segera plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi untuk Blogspot dan WordPress dengan instalasi mudah & singkat. Salam!
http://www.infogue.com/film/film_ayat_ayat_cinta_buruk_/
Februari 29, 2008 pada 3:33 pm
Komentarku
Aku sih belum liat filmnya, cuma pada zaman sekarang ini, memang segala sesuatu itu diukur dengan materi, segala siasat akan dipertaruhkan untuk menutupi kebenaran yang ada, semoga suatu saat nanti ada film yang benar-benar menyuguhkan keindahan Islam, tidak didasarkan atas nafsu belaka
Sungguh tragis yah buku yang sudah mencapai best seller, tetapi difilmkan tidak sesuai dengan aslinya
Mungkin ada baiknya untuk dijadikan sinetron berseri, supaya lebih jelas dan detail, jadi gak ada yang terpotong
ALLAHU AKBAR
Salam
Februari 29, 2008 pada 3:55 pm
dear all pembaca novel ayat2 cinta,,
memang saya agak kecewa dengan perbedaan alur cerita, atau settingan yang kurang mesir boow..
tapi sy mentolelir smua karna budgetnya mungkin kaga banyak
karaktr aisyah juga emang saya pikir agak berbeda, tidak se shaleh ky di novel,,, yang rela ngasih 10 juta dolar duitnya ke fahri,
tapi apapun itu dengan segala kekurangan nya, saya tetep nganggep bahwa film ini ngasih sesuatu yang beda, dan tetap makna novel bisa tersampaikan,,, n probably the best indonesian movie i’ve ever seen,, so far!
buat yang kecewa seharusnya memaklumi, sngat sulit mengkonversi novel ke dalam film sama persis, dalam novel kita berfantasi sendiri, dan fantasi org tdk terbatas sementara film terbatas, begono coy..
salute buat hanung…
karakter
Maret 1, 2008 pada 4:40 am
wew, memang setelah menonton (bajakannya) dan sempat kecewa….
Tapi setidaknya sang sutradara telah berbuat maksimal, kalupun tidak sesempurna aslinya, saya kira harus dimaklumi. bahkan Mas hanung menurut saya patut dihargai (one and half thumbs up for you). Kesempurnaan milik diatas dan (menurut saya) hanya dalam imajinasi saja (seorang fahri yang nyaris sempurna pun) tak akan dapat ditemui dalam alam nyata (termasuk pemilik blog ini)…
Maret 1, 2008 pada 7:45 am
[...] the movie, maklum denger-denger banyak yang kecewa, apalagi yang abis baca bukunya. Lucunya, IMHO.. yang kecewa itu rata-rata mereka yang jarang nonton film dan kedua mereka yang terlalu mengagungkan buku [...]
Maret 1, 2008 pada 10:49 am
cuman satu yang bikin mataku ga ngantuk waktu nonton AAC di bioskop:
MacBook Pro !!!
satu2nya pesan moral yang saya tangkap dari AAC:
jangan pake PC Windows butut, pake Mac
wakakaka…
Maret 1, 2008 pada 1:13 pm
pemikiranmu sama denganku, tapi ada juga yg gak sependapat dengan kita lho, wajarlah…. aku pikir novel yg se”cuci” itu bisa dilukai oleh film tsb>>>
ada temenku< sebut saja namanya Irfan< dia memang awam dan belum baca novel< ketika aku dan dia sama2 nonton premiere kemarin, dia bilnag gini, “gak nyangka, aac ternyata gini toh..”
aku pun membantahnya, versi novel jauh jauh lebih baik…
Maret 1, 2008 pada 1:34 pm
Wuahhhhhhhh…..
Yang boneng, sebegitukah anda membenci film ini,,,,,,
menurut sy film ini lumayan bgs, apalagi akhwatnya, dijamin tidak mengecewakan….
Eh lo, tolong jng jelek2x ini film dunk, coz salah satu bintangnya mantan sy,
Maret 1, 2008 pada 1:40 pm
Wuah setuju buanget bozzzz, tp bukan untuk lo….
gw setuju ama bung frengky nih…
Maret 1, 2008 pada 6:48 pm
(tidak) seharusnya film itu sama dengan isi novel, kalau sudah begitu sutradaranya hanya sekedar tukang fotocopy. Lebih lanjut, saya tulis di http://danummurik.wordpress.com
Maret 1, 2008 pada 8:37 pm
coba baca dulu curhatannya Hanung di blognya…mungkin itu sedikit mengubah penilaian Anda
Maret 1, 2008 pada 9:06 pm
buruk?!
sangat buruk maksudnya??
Maret 1, 2008 pada 9:44 pm
“jgn jadi orang yg cm bisa kritik,protes,hina,jelek2an,menjatuh kan karya orang lain… hargain donk sedikit.. klo emang loe bisa buat yg lebih bagus lo buktiin donk jgn cm jadi jagoan didunia maya..”
respect others
permisi
Maret 1, 2008 pada 9:48 pm
Alhamdulillah
awa blum nonton
dan gak bakal nonton
pilemnya basbang
wakakakaka
Maret 1, 2008 pada 9:53 pm
betulll… ya tapi wajarlah namanya juga orang indoesia cm bisa BAJAK n MENGHINA.. ya ga??
Maret 2, 2008 pada 4:39 am
Saya rasa anda berhak untuk berbicara..
tapi alangkah baiknya tanpa dengan secepatnya memberikan
judgment yang negative,
anda mencari tahu alasan kenapa perbedaaan itu terpaksa dilakukan..
dan seberapa keras orang orang yang bersangkutan membuat film itu..
http://dearestmask.blogs.friendster.com/my_blog/2007/08/ayatayat_cinta.html
saya rasa anda selalu ingin orang menghargai karya yang anda buat ,tanpa memberikan comment asal ngomong tanpa tahu pikiran dan alasan anda, bukankah begitu ?
Maret 2, 2008 pada 7:25 am
Salam kenal!
Film memang karya kolektif. Di dalamnya ada banyak kepentingan. Bisnis adalah yang paling utama. Sebelum membuat film, wadyabala di baliknya sudah melakukan perhitungan-perhitungan yang matang dengan risiko sekecil-kecilnya. AAC adalah salah satu contoh film korban dari kebeutuhan pasar. Pasar menghendaki novel itu difilmkan. Penulisnya ingin novel itu diterjemahkan secara lugas. Sutradara ingin mewujudkan idealisme akan sebuah film islami. Namun, pemilik modal juga punya kepentingan untuk menjual film ini agar bisa dinikmati oleh semua kalangan, bukan hanya islam. Sebagai contoh, adegan Maria masuk Islam tidak dimunculkan. Ini bagian dari politik pasar agar film itu masuk ke semua lini.
Jika memang kita ada keinginan untuk membuat film yang pure islami dan sesuai dengan novel aslinya, aku pikir Kang Abik dan Hanung harus mencoba jalin kerjasama dengan donatur islam. Kita punya banyak. Dua ormas islam terbesar macam NU dan Muhammaadiyah, miaalnya, pasti sanggup mendanai. Atau bagaimana kalau kita para muslimin urunan?
Tabik!
Maret 2, 2008 pada 7:58 am
Saya heran dengan orang yang protes dengan tulisan ini dan marah minta jangan cuma jago di dunia maya doang..
Kayanya di paragraf kedua dari akhir saya sudah menulis tentang disclaimer dari saya,makanya,jangan cuma baca komen orang atau judulnya doang,baca semua dunk,baru anda komen.Anda bakal menganggap saya kejam kalo cuman baca komen dari orang2 yang ternyta lebih kejam dari saya.
Dear Fina, apakah saya hanya bisa menghina?Boleh anda baca semua artikel film di blog saya(Ada beberapa,salah satunya yang film indonesia “radit dan jani”
dan kayanya baru satu ini saya menuliskan ketidaksukaan saya.
Mungkin kalo fina ngomong orang indonesia cuman bisa membajak dan menghina,coba berkacalah ke diri anda sendiri.
Dear all,with all of my respect,thanks for the comment!I can’t reply it one by one..
Wassalam
Maret 2, 2008 pada 10:35 am
Baru sadar ya, Mas? Saya dari dulu sudah tidak percaya dengan yang namanya filem Indonesia.
Maret 2, 2008 pada 1:29 pm
Semoga kritiknya mas yang pedas ini bisa jadi yang dikritik dan yang mengkritik jadi lebih baek.
Gak ada orang yang sempurna di dunia ini, karena adanya nafsu, dunia, harta, kepentingan,dll. Kesempurnaan akan datang dgn sendirinya jk qta berusaha untuk lebih baik dari hari ke hari.
Mg2 aja pilem AAC ini adalah awal dari itu,meski saya juga liat ada banyak kepentingan yg ada d dlmya.
Minimal ada yang lumayan lebih bagus dan berbobot dibanding yang ada sekarang ini. Dan kalau dgn pilem ini ada 1,2,16,50,100,1000,30000,ato 1 juta orang yang bisa jadi lebih baik dari sebelumnya Alhamdulillah.
Memang saran,kritik,pendapat,komentar dari orang lain sangat diperlukan.
Karena kalo gak ada itu semua,orang gak akan pernah belajar,menjadi dewasa,dan tidak akan pernah jadi lebih baik.
Wallau a’lam.
Maret 2, 2008 pada 3:05 pm
yup ku juga gak suka tu filmny, pa lagi artisnya juga kurang pas pokokke kecewa deh, mending baca novelnya tp mang susah kok kl novel jadiin film cz orang yang dah baca pasti pny imajinasi yg beda2 kecuali yg lom baca mesti bilang tu film bagus
Maret 3, 2008 pada 12:41 pm
He.He.He.
Ada ga sih FILM yang Islami…?
Hampir bisa dipastikan, ga bakal ada…!!!
Bahkan sinetron Para Pencari Tuhan-pun bukanlah sebuah sonetron yang Islami. Memang dari segi cerita kental unsur dakwahnya, tapi jangan lihat sekedar dari ceritanya yang memberi nuansa dakwah atau tidak, tapi lihat juga proses pembuatannya…!
Contoh paling sederhana, apakah ada jaminan tidak bakal ada ikhtilath dalam proses pembuatan filmnya?
Jadi kalo saya pribadi, nonton mah nonton aja. Lihat apa pelajaran yang bisa diambil. Seperti kalo nonton film The Messenger buatan Holywood. Itu yang main ‘kan orang kafir semua, tapi waktu aku kuliah dulu suka ditonton rame2 sama anak2 rohis kampus. Karena memang yang dicari adalah pelajarannya, bukan siapa yang main.
Terus, ya saya maklumi aja kenapa film Ayat2 Cinta beda sama Novelnya. Itulah resiko ‘berdakwah’ di dalam sistem kafir. Ga bakal bisa maksimal…!!!
Idealisme kepentok sama nilai2 komersil.
Tapi overall, secara pribadi saya salut sama Hanung Bramantyo atas film Ayat2 Cintanya. AAC bagaikan setetes air atau hembusan angin sejuk di padang tandus.
Maret 3, 2008 pada 1:13 pm
Assalamu’alaikum Smuanya,,
Kalau menurut ane pribadi, filmnya sudah cukup menggambarkan keindahan islam dan cerita dari buku tersebut
Jadi gak usah sedih atau bahkan menghujat film tersebut, karena sama saja itu menghujat agama sendiri, tentang hal-hal yang berbau bokep, itu adalah tergantung dari persepsi masing-masing individu, bukankah difilm-film lain ada yang lebih buruk dari hal itu ??
Seharusnya kita mesti bangga, karena film islami bisa ditayangkan di Layar Lebar, sehingga yang menontonnya pun tidak hanya dari orang islam itu sendiri, tetapi berbagai agama
Seseorang yang hanya bisa menghujat, atau bahkan menghina, sebenarnya pemikirannya sangat sempit, karena disitu tertuang hikmah yang sangat besar
Seperti soal poligami Aa’Gym, yang mayoritas masyarakat Indonesia khususnya ibu-ibu sangat mengutuk dan tidak suka hal tersebut, apakah seharusnya seperti itu ??
Karena manusia biasanya tidak menyukai kebaikan, dan selalu melihat segala sesuatu berdasarkan nafsu saja
Soal peran atau sbg, itu hanyalah peran dan tuntutan skenario, dan sebagai seorang muslim setidaknya bisa berfikir positif terhadap sesuatu, tidak menghujat dan menghina bahkan mengutuk
Tidaklah seorang mu’min itu suka mencela, dan tidak pula suka melaknat, dan tidak keji mulut dan tidak berkata kotor
(muslim)
Wassalam.
Maret 3, 2008 pada 1:49 pm
dibikin lagi aja filmnya, judulnya : The Real Ayat-Ayat Cinta
Maret 3, 2008 pada 2:21 pm
atau “Ayat-Ayat Cinta Perjuangan” hehehe…
Btw,… ini ada tulisan yang cukup menarik. Terserah bagaimana pendapat kalian.
Sumber:http://tanfidz.wordpress.com/2008/02/23/film-ayat-ayat-cinta-lebih-berbahaya-dari-film-maksiat-sebuah-analisa-dari-ustad-lukaman/
Mungkin karena fenomena best seller nya Novel Ayat-ayat Cinta yang menyebabkan banyak orang ingin cari tahu tentangnya yang akan dibuat menjadi film beberapa hari lagi. Dan ketika mereka searching di google atau lainnya, menggunakan keyword Ayat-ayat Cinta lalu tersangkut di blog ini. Karena memang ternyata, banyak sekali tanggapan orang-orang yang menunggu kehadiran film tersebut. Hal itu bisa di lihat di blog pribadinya si pembuat film tersebut. Juga di blog peminat, dan lainnya.
Walhamdulillah, jika memang begitu keadaannya semoga mereka mengurungkan niatnya dan mengganti dengan aktivitas yang bermanfaat setelah membacanya.
Oleh karena arus terbanyak itulah, tulisan kedua yang membahas tentang Ayat-ayat Cinta ini dibuat. Semoga niat ini dapat menghancurkan angan-angan Hanung Bramantyo, si Peminat omong-kosong tentang Ayat-ayat Allah. Meskipun disadari ini hanyalah sebagian kecil usaha dari banyak lagi blog-blog lainnya, seperti di blog ini, yang menyoroti Ayat-ayat Setan tersebut.
Namun, tulisan ini bukan bermaksud mengajak para pembaca untuk mengalihkan minatnya setelah membaca artikel sebelumnya, dari menonton film Ayat-ayat Cinta ke film porno, setelah membaca artikel ini.
Seluruh film yang memperlihatkan tubuh manusia adalah haram. Allah -subhanahu wa Ta’ala- berfirman, “Katakanlah kepada wanita-wanita mukminah, “Hendaklah mereka menundukkan pandangan mata mereka dan menjaga kemaluan mereka serta jangan menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang biasa tampak darinya. Hendaklah pula mereka menutupkan kerudung mereka di atas leher-leher mereka dan jangan mereka tampakkan perhiasan mereka kecuali di hadapan suami-suami
mereka, atau ayah-ayah mereka, atau ayah-ayah suami mereka (ayah mertua), atau di hadapan putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau di hadapan saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka (keponakan laki-laki), atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau di hadapan wanita-wanita mereka, atau budak yang mereka miliki, atau laki-laki yang tidak punya syahwat terhadap wanita, atau anak laki-laki yang masih kecil yang belum mengerti aurat wanita. Dan jangan pula mereka menghentakkan kaki-kaki mereka ketika berjalan di hadapan laki-laki yang bukan mahram agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan dan hendaklah kalian semua bertaubat kepada Allah, wahai kaum mukminin, semoga kalian beruntung.” (An-Nuur: 30-31).
Oleh karenanya, melihat sebagian aurat saja haram, apalagi melihat seluruh aurat seperti di film-film porno.
Teringat akan pesan Al-Imam Sufyan Ats Tsauri -rohimahullohu-, “Sesungguhnya kebid’ahan amat sangat disenangi oleh iblis daripada perbuatan maksiat. Karena (orang yang melakukan) perbuatan bid’ah tidak akan (kecil kemungkinan) bertaubat darinya. Sedangkan kemaksiatan akan (memungkinkan pelakunya) bertaubat darinya.”
Di samping itu juga, sesuatu hal yang jelas-jelas maksiat, seperti film porno, kita akan dengan tegas mengatakan bahwa itu adalah kemaksiatan. Dan berusaha sebisa mungkin untuk menjauhinya. Kecuali yang di hatinya sudah rusak. Dan ketika orang terjerumus di dalamnya, besar kemungkinan dia akan menyesali telah melakukan hal tersebut, lalu ia bertaubat dan Allah menerima taubatnya.
Namun, bayangkan jika sesuatu hal yang sebenarnya buruk, dan setan membungkusnya dengan kata-kata indah. Sehingga tersamarlah keburukan itu dengan sebuah keindahan. Yang jika kita melakukannya, maka kita tidak akan menyesalinya. Bahkan cenderung merasa telah melakukan sebuah ibadah, atau minimal berbuat baik. Kecil sekali kita menyesali perbuatan tersebut.
Coba diperhatikan kembali, jika yang kalian maksud film tersebut bagus dari segi efeknya. Artinya, mungkin yang kafir jadi Islam. Yang bejat jadi baik. Dan yang pacaran langsung menikah. Hal-hal seperti itukan yang kalian maksud efek positif darinya?. Sehingga, kalian mendukungnya sambil mengetik kata Takbir dan do’a-do’a yang mengharapkan agar film tersebut dapat tampil tanpa halangan. Karena, kalian menganggapnya sebagai film dakwah.
Dengan dalih, mereka -para penikmat tempat hiburan- itukan saudara kita! Apakah orang-orang yang sering ke bioskop tidak boleh didakwahi?! Apakah orang-orang yang berada di tempat-tempat maksiat tidak boleh didakwahi?!. Begitu kira-kira kata mereka yang menganggap film tersebut sebagai film dakwah.
Semua yang disebutkan di atas adalah “tujuan yang diharapkan” yang “mungkin” saja berdampak begitu. Kalaupun, akan berdampak seperti yang dikatakan, efek yang didapatkan akan tidak sempurna. Artinya, ya, mungkin saja mereka menjadi Islam, namun Islam yang nantinya masih suka ke bioskop, masih suka memakai celana ketat meskipun sudah berkerudung, masih suka datang ke tempat-tempat yang bercampur baur antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahromnya, dan lainnya. Hal inilah yang dikatakan efek terbaik yang didapat darinya menurut mereka. Namun perlu diingat, meskipun cuma hal-hal seperti itu yang dikatakan positif, itu masih “AKAN”. NANTI TERJADINYA, setelah mengantri di depan loket berdesak-desakkan antara laki-laki dan perempuan, setelah duduk di bangku bioskop setelah beberapa jam, setelah mendengar beberapa lagu pengiring, lebih berbahaya lagi dinyanyikan oleh perempuan, setelah melihat seorang kafir memegang mushaf Al Qur’an dan kalian tidak membenci atau mengingkarinya.Yang dalam beberapa jam tersebut, kalian “pasti” mendapatkan keburukan-keburukan atau maksiat-maksiat lainnya. Padahal katanya, “Kalian bisa terhindar atau merubah hidup dari yang senang dengan kemaksiatan menuju hidup yang senang dengan agama setelah menonton film tersebut”.
Sungguh, niat yang baik tidak bisa merubah yang haram menjadi halal!!!!
Wallahu a’lam bish shawwab…!!!
Maret 3, 2008 pada 3:53 pm
Kalo gw sich kecewa abisss..
apalagi ada adegan buka jilbabnya… ga banget dech !!!
untung gw ga nonton di 21. gw nonton dari kompi temen gw.. jadi ga kebuang duit gw yang 15 ribu.. ampun2 deh kalo nonton dari bioskop. sayang duit gw. mending buat beli beras yang makin malal. !!!
Maret 3, 2008 pada 6:19 pm
gw cukup senang dengan dibuatnya film Ayat2 Cinta dengan segala kelebihan dan kekurangannya…dan memang gw akui antara novel dan filmnya jauh berbeda…namun hendaklah kita bisa dengan bijak melihat nilai2 dan ajaran serta moral yang ingin disampaikan oleh film ini. Bagaimanapun hati gw telah tercerahkan begitu usai menonton film ini….
Maret 3, 2008 pada 6:26 pm
Ya… kola kita bandingkan antara film dan novelnya memang jauh banget. Waktu pertama kali nonton saya kecewa coz tak seperti apa yg saya bayangkan. Mulai dari settingan tempatnya yg jauh banget, pemain yang tak menggambarkan karakter yang ada di novelnya. Apalagi Aisyahnya terlihat sombong, yg pas cuma Maria aja menurutku.
Tapi walau begitu saya tetap memberikan apresiasi buat sutradara, pemain dan all crew. Walau jauh dari sempurna minimal masih memuat pesan2 Islami di dalamnya, Mengkampanyekan ga ada pacaran dalam Islam, Ga boleh bersentuhan selain dg muhrim, keputusan poligami yang ga seenaknya, dll.
Ya kita tunggu saja para sineas muslim yg lain untuk membuat film yg lebih Islami yg lebih syar’i. ga hanya mengkritik saja.
Maret 3, 2008 pada 8:32 pm
EH KALIAN YANG BILANG NI FILM PICISAN EMANG BEGO (KALAU AQ BISA BILANG KASARNYA). GAK BISA NERJEMAHIN APA ITU ARTI SEBUAH FILM N NASEHAT APA YANG TERKANDUNG, COBA AJA SEANDAINYA AJA TIDAK DIFILMKAN PALING YANG BACA NOVELNYA CUMA DIKIT, MEDIA DAKWAH NYA JUGA KURANG, COBA KALIAN LIHAT DALAM FILM ITU DIJELASKAN “JANGAN TIDUR SEHABIS SHUBUH” APAKAH ITU BUKAN SEBUAH MEDIA DAKWAH YANG BAIK, ITU MENGAJARKAN KEPADA SEMUA ELEMENT MASYARAKAT DARI SEMUA KALANGAN. TERUS CARA PERGAULANNYA JUGA, APA NGGAK LEBIH BOBROK DENGAN YANG KALIAN LAKUKAN? BERKACALAH PADA DIRI SENDIRI, SEPERTI APA SIFAT KALIAN???? JANGAN HANYA PANDAI MENGKRITIK ORANG SAJA.. TAPI BISA MENCIPTAKAN SUATU INOVASI ATAU PEMIKIRAN BARU. GITU BARU NAMANYA ORANG CERDAS,,, WALAUPUN CIRI KHAS ISLAMNYA KURANG TAPI MASIH TETEP ADA DIBANDING FILM INDONESIA YANG LAINNYA YANG KALIAN BILANG KEREN, FUNGKY N BULSHIT (YANG JELAS NGGAK ADA SENTUHAN ISLAMNYA DAN TIDAK LEBIHNYA MALAH MERUSAK MORAL KALIAN, ITU YANG KALIAN KATAKAN BAIK???????? MAU JADI GENERASI APA KALAIAN KALAU DARI MORALNYA AJA UDAH RUSAK)KARENA DIRACUNI OLEH PRODUSER FILM YANG HANYA MENGANDALKAN PROFIT SEMATA….. KALIAN TU YANG NORAK…. JADI YANG BELUM NONTON SEGERA NONTON DAN JANGAN LUPA UNTUK MENGAMBIL NILAI POSOTIF YANG TERKANDUNG DI DALAM FILM INI, TERUTAMA MEDIA DAKWAHNYA YANG LUMAYAN BAGUS….
Maret 4, 2008 pada 8:59 am
*Dengan sabar menunggu vcd-nya keluar, supaya bisa nyewa atau minjem…* :))
Kalau Hanung aja nggak bangga dengan karyanya, apalagi kita yang apresiasinya ya? *berharap ada yang bikin filmnya lagi*
Maret 4, 2008 pada 4:35 pm
Kalo gue sih ga heran kalo film AAC mengecewakan. Maaf ya bukannya mendiskreditkan para pelaku perfilman di Indonesia, jujur aja nih sebagai orang Indonesia jarang banget gue ntn film buatan Indonesia. karena dari pengalaman gue menonton film indonesia itu sering sulit dimengerti dan banyak kejanggalan. pesan/ide/cerita yang ingin disampaikan sering sekali tidak bisa diterjemahkan dengan baik oleh sutradara atau oleh penggambaran filmnya, ditambah lagi akting pemerannya yang jauh dari standart bagus. sehabis nonton biasanya malah bikin bt. mendingan nonton Lake House di jamin tidak mengecewakan :P.
Maret 4, 2008 pada 5:14 pm
Yang namanya bikin adaptasi memang tidak mudah, tapi terlepas dari jalan ceritanya, saya menyukai aspek sinematografinya.
(subyektif)
Maret 5, 2008 pada 1:41 am
bagus sih…ga mesti sama kyk novelnya…lah yg bikin juga beda.
Saran saya klo mau dibikin tandingannya :
1. artisnya jgn dari indonesia…ya klo orang mesir ya ambil artis mesir (klo perlu tikus yg dipenjara juga tikus mesir)
2. syutingya di kairo (sungainya bener2 sungai nil, universitasnya al-azhar beneran, flatnya jg)
3. ngomongnya pake bahasa arab dari awal smp akhir
4. klo bisa sih jgn terlalu byk adegan yg dipotong
5. buat suasananya benar2 di mesir, bukan di semarang
Maret 5, 2008 pada 10:07 am
aku udah dapat bajakannya…wah nuntung ga nonton di bioskop!!!
Maret 6, 2008 pada 6:29 am
Dilihat dari kesempurnaan, Film AAC produksi MD mungkin mengecewakan. Tetapi jika dibandingkan film2 remaja lainnya, AAC cukup membanggakan. Orang barat yang bisa bahasa Indonesia dan nonton tuh film, saya rasa akan kagum dengan film tsb. Saya lebih memilih untuk melihat dari sisi ini. Jadi, saya cukup bangga. Tapi saya tetap lebih suka novelnya.
Maret 6, 2008 pada 6:58 am
idealis, memang beginilah mahasiswa!!!!!!!!!!, hidup Osama!!!!!!!!!!!!
Maret 6, 2008 pada 2:29 pm
Kekecewaan dari beberapa temen2 semua thd film AAC bisa jadi disebabkan ekspektasi berlebih karena dibandingkan dgn novelnya yg best seller. Wajar saja… tapi, akan lebih objektif jika memandang ini sebagai film.. bukan novel…
Nikmati AAC ini sbg film dgn segala kelebihan dan kekurangannya.
Trus, bebrapa kritik terhadap kekurangislamian film ini harusnya jg lebih dinilai objektif, liat sisi positif dan manffat apa yg diperoleh dari film ini, walaupun mungkin masih kalah jauh dibandingkan novelnya.
Bagi saya pribadi, setidaknya film ini jauh lebih baik daripada jenis film2 hantu yg sekarang sdg membanjiri bioskop2 kita.
Salut buat Hanung yg telah bekerja keras membuat film ini.
Maret 6, 2008 pada 7:51 pm
saya penasaran banget sama filmnya makanya bela-belain bolos kuliah buat nonton di PIm sama teman2, memang gak sebagus novelnya dan beberapa detail cerita yang agak beda tapi mungkin pembuat filmnya punya alasan sendiri kenapa seperti itu, dan gak buruk2 amat kok. masalah pemeran yang gak sesempurna tokoh nya dalam kehidupan sehari-hari mereka, kayaknya agak susah mencari artis yang tampangnya oke tapi berakhlak sebaik fahri dan tokoh lainnya.
Maret 7, 2008 pada 6:06 am
[...] Cinta 5. Ayat-ayat cinta (komen-ikut-ikutan) 6. Film Ayat-Ayat Cinta : Dipuja dan Dibajak! 7. Film Ayat-Ayat Cinta = Buruk! 8. AYAT AYAT CINTA (AAC) THE MOVIE MENGECEWAKAN 9. Ayat-ayat Cinta: Sabar dan Ikhlas, Itu Islam! [...]
Maret 7, 2008 pada 12:04 pm
setidaknya masih jauh lebih baik dari semua film indonesia yang pernah dibuat. setidaknya jauh lebih banyak pesan dsana daripada film yg lain. jadi saran saya, ikhlas dan bersyukurlah terhadap moment itu. hargailah karya yang telah tercipta, bukan malah mencerca.
Maret 7, 2008 pada 1:46 pm
Phail Desu~~~~
Bener brur, plain rasanya nonton film ini… Entah kenapa, mungkin karena udah baca novelnya yang memang (menurut boros saya) jauh lebih baik.
Tapi over all kalau dibandingin sinetron/film Indonesia pada umumnya, ini masih lebih baik.
Maret 8, 2008 pada 12:04 am
[...] Oya supaya imbang, coba baca juga postingan-nya : 1. Hanung Bramantyo : Dari India menuju Jakarta 2. Hasan Junaidi : Kejanggalan film ayat-ayat cinta 3. Deteksi : Midnight ayat-ayat cinta 4. David : Film ayat-ayat cinta 5. Scooter : Film ayat-ayat cinta = buruk [...]
Maret 8, 2008 pada 6:01 pm
ya jelas aja beda dari novelnya soalnya novelnya aja lebih dari 300 hal klu dibikin film semuanya bisa 3 hari 3 malam nonton di bioskopnya so layar tancep donk. klu belum nonton jangan kritik dulu, udah nonton baru kritik. menurut saya dibandingin dengan film2 horor selama ini ayat2 cinta ibarat mata air. habiburahmannya aja gak protes kok. Filmnya juga gak bokep kayak kamu pikir itu tergantung yang nnonton aja. asal tau aja habiburahman juga mengawasi proses pembuatan filmnya. so…….
Maret 10, 2008 pada 12:36 am
memang gak puwas, tapi IMHO sih nggak buruk, cuma kurang sedebh aja
Maret 10, 2008 pada 11:30 am
[...] kunci “ayat-ayat cinta” di google.com. Pertama kali saya nemu artikel di dengan judul Film Ayat-Ayat Cinta = Buruk!. Saya baca juga artikel tersebut, sebagaimana saya duga, banyak bermunculan komentar di artikel [...]
Maret 10, 2008 pada 1:49 pm
okeeeeeeeeee……………
ayat- ayat cinta emang gak pantes di sebut islamy…. kalau di katakan sebagai sebuah karya seni yang mampu mempengaruh dan membawa penonton pada suasana cinta dan romansa emang ya…
tapi sekali lagi bukan islamy…….
yang ada dalam film itu sebenarnya hanya sebagaimana yang di sebut dalam ayat zina…..
“jangan kau dekati (segala sesuatu yang berkaitan dengan)perzinaan karena sesunguhnya itu adalah perbuatan tercela”…….
Maret 10, 2008 pada 7:38 pm
kapan majunya perfilman nasional bila setiap film yang bermutu di buat selalu di buat. Dan buat elo (yang buat artikel diatas) sebaiknya lebih menghargai hasil karya orang lain (bisa gak lo bikin film kayak gitu?).
Maret 11, 2008 pada 2:37 pm
hhmmm…..terlepas dari film itu buruk ato baik, cobalah kalian lihat usaha keras dari mas hanung yang sebenarnya ingin tetap mempertahankan idealismenya, mempertahankan film ini untuk tetap tervisualisasi seindah novelnya…jatuh bangun perjuangan mas hanung bikin film ini smp titik darah penghabisan, baca aja di blognya mas hanung http://hanungbramantyo.multiply.com ternyata membuat film g segampang yang ada di pikranku…..ribet, melelahkan, bahkan menjengkelkan…wajar jika mas hanung hampir putus asa dalam menggarap film ini, but he won’t give up…
Lebih enak lagi klo salah satu dari kalian punya duit banyak trus jadi produser bwt memproduseri ulang film AAC dan dibuat persis dengan novel yang kaya akan unsur islam nya..krn saya rasa kendala mas hanung untuk mencipatakan visualisasi seperti di novel adalah krn produser ingin film ini laris dan tidak jeblok di pasaran sehingga merasa harus merubah skenario, yang hal itu sebenarnya tidak sesuai dengan keinginan mas hanung.
Tentunya jika pada suatu saat nanti bnr2 ada yang menuangkan AAC ke dalam bentuk film tentunya akan menemui kendala dalam menggambarkan adegan ketika dalam koma nya maria bertemu maryam di depan pintu surga….hmmmm pastilah tidak ada manusia pun yang sanggup menggambarkan wajah maryam dan keindahan surga…betul tidak? setidaknya film AAC memberi nuansa baru di dunia perfilman indonesia yang sekarang uda mulai ” GA BGT” dgn banyak film horor ga penting….Pisss…
Maret 11, 2008 pada 5:28 pm
jadiin sinetron aja, jangan jadi film bioskop, pasti sinetron terbaik, dibanding sinetron lain saat ini.
Maret 11, 2008 pada 9:01 pm
yah…saya juga sedikit kecewa sama filmnya karna unsur islami nya sedikit dan ga mirip sama novelnya, tapi lumayan lah untuk kebangkitan film religius islam…dan tidak buruk-buruk amat saya berharap ada film AAC versi internasionalnya yg lebih islami, setting ditempat aslinya di kairo dan pemeran aisah dari orang mesir asli, dan dakwah nya yg lebih kental..mudah2an produser muslim mau mengangkat novel religus kang abik lainnya oya kang abik, gimana klo anda bikin novel baru dg tokoh utama gadis palestine…dg setting perang israel palestina cowoknya orang indonesia lagi juga boleh…sy yakin pasti box office lagi… hehe
Maret 12, 2008 pada 11:41 am
assalamu’alaikum
jujur aja aku belom nonton filmnya, tapi klo baca novelnya sih udah, tapi setelah diceritakan oleh saudara ttg jalan atau alur cerita di fimlnya, ternyata emang banyak sekali yang tidak sesuai dengan yang ada di novelnya, saya sekali padahal itu kan kisah nyata tapi knp setelah dibuat filmnya ko?????banyak sekali yang TIDAK SESUAI jujur aja aku kecewa sekali!!!knp sih klo bikin film itu selalu tanggung? n ga pernah maksimal?
Maret 12, 2008 pada 12:06 pm
bagaimana kalau film ayat ayat cinta ke 2 kita rilis lagi dan benar-banar timut tengah , sutradaranya bukan hanung lagi tapi OSAMA BIN LADEN…..setuju……….!!!!!!!!!!!!!!!!!!