Scooterboyz Bertutur

Hanya sekedar blog biasa

Archive for Juli, 2008

Budaya Membaca

Posted by scooterboyz pada Juli 17, 2008

Kebetulan, benar-benar kebetulan (sebab tidak ada kesempatan memilih), saya dilahirkan dalam keluarga yang bisa dibilang “kutu buku”. Kakek dan om-om saya adalah penulis yang lumayan aktif. Kakek saya sebagai orang yang dianggap “Ahli Agama” banyak menulis dan menterjemahkan buku-buku islam yang berfokus pada fiqih-fiqih. Lalu om saya, Haidar Bagir, merupakan orang yang sangat aktif menulis untuk filsafat Islam, baik berupa buku maupun kolom-kolom di majalah dan koran. Saya sendiri, sejak kecil, sudah “dicekoki” dengan berbagai buku, mulai dari (yang saya ingat) Magic School Bus, Kumata si Beruang Kecil, Bobo dan lain-lain saat saya masi berusia anak-anak. Setelah masa itu lewat, mulai saya baca komik dan novel-novel ringan hingga sekarang sudah meningkat lagi, entah sampai tahap mana. Kebetulan dan cekokan ini sama sekali bukan berarti negatif, tapi benar-benar saya syukuri.

Kenapa saya syukuri?Jelas, dengan membaca, hidup saya menjadi tidak kosong. Selain mengisi waktu, juga sebagai inspirasi-inspirasi dalam menjalani kehidupan ini. Betapa tidak? Saya mendapat banyak ilmu dan cerita-cerita yang menarik dari bacaan saya itu. Mulai dari yang fiktif, seperti novel-novel dan cerita-cerita lainnya, hingga ke buku yang non fiksi.

Secara pribadi, saya sangat tertarik dengan buku-buku novel (yang tidak picisan tentunya) dan cerita-cerita non fiksi serta catatan perjalanan seseorang. Gila, hati saya ini berdebar-debar saat membaca catatan perjalanan dan kehidupan orang-orang itu. Sebagai contoh, buku “Catatan Si Roy” karya Mr. Gola Gong. Ini menurut saya buku yang sangat inspiratif hingga jaman kapanpun. Jujur, saya mulai menjadi “penjelajah” gunung dan pergi jauh untuk sekedar menikmati alam setelah membaca habis buku ini, mungkin itu sekitar akhir SMP. Setelah itu saya menjadi sering naik gunung atau berpetualang ke kota-kota lain. Selain itu banyak sekali pemikiran-pemikiran saya yang muncul setelah membaca buku ini. Karena itulah, saya berusaha untuk tidak menjadi orang yang tertutup dalam kehidupan. Saya jadi suka berdiskusi, ngobrol ini itu, dengan semua orang. Masalah politik, OK. Masalah Sosial, OK. Masalah Sastra, Psikologi, Filsafat, OK. Walau saya mungkin bukan ahlinya, tapi minimal saya tidak gagap saat berbicara dengan itu. Selain itu, hasil dari membaca ini, saya jadi sering berdiskusi dengan banyak orang dan inilah yang membuat saya tidak tertutup pada siapapun.

Ada banyak sekali teman saya yang sama sekali tidak tertarik untuk membaca (kecuali komik dan mangan scan tentunya). Mereka hanya membaca buku-buku diktat sekolah dan kuliah. Atau banyak juga yang membaca buku populer dan best seller saja. Menurut saya best seller bukan menjadi tolok ukur baiknya suatu buku untuk dibaca ato tidak. Sering saya melihat buku-buku best seller yang tidak lebih dari buku yang memanfaatkan kesempatan ato merupakan cara pemasarazn dari penerbit-penerbit itu, tapi isinya, wew..jelek banget.

Nah, budaya membaca ini sudah digembar-gemborkan sejak jaman dulu. Ada banyak slogan “Buku adalah jendela dunia” dan slogan-slogan sejenis, tapi itu hanya menjadi jargon kosong saja. Gimana tidak? Gagalnya budaya membaca ini menurut saya bukan 100% kesalahan masyarakat, tapi juga bisa jadi kesalahan pemerintah dan penerbit (secara bapak saya juga bekerja di penerbitan buku,hehehehe). Menurut saya, harga buku di Indonesia itu teramat mahal, jujur, apalagi untuk kelas mahasiswa dan pelajar. Lihat saja, harga buku *bermutu* di Indonesia ini pasti lebih dari Rp. 30.000 (ini sudah jarang sekali ada yang harga segini). Berapa harga makan untuk mahasiswa “normal”(seperti saya :mrgreen: )? Tidak lebih dari 5000-6000 rupiah. Bayangkan, harga buku bisa lebih dari 5-6 kali harga makan. Wew..Selain itu, kenapa yah tidak diadakan sistem seperti di beberapa negara, yaitu apabila sudah selesai dibaca, anda bisa mengembalikan buku itu dengan harga tertentu. Misalnya, Anda beli sebuah buku, dengan harga US$7.00, anda akan mendapatkan uang kembali apabila buku itu sudah dikembalikan dengan US$2.00, tentunya dengan syarat bukunya harus masi baik dan tidak rusak serta pada jangka waktu tertentu. Menurut saya itu sangat menarik, jadi itung-itung kita beli buku dengan harga US$5.00 apabila buku itu kurang menarik atau kita merasa cukup dengan sekali baca.

Usulan untuk penerbit, mungkin sebaiknya anda membuat buku murah, misalnya dengan kualitas cetakan yang biasa saja (jangna jelek) dan kertas yang murah, seperti mungkin paper bag ato gimana gitu dan ga usah pake hardcover ato apalah itu. Untuk pembeli seperti ini mungkin bisa dibatasi, misalnya untuk dapat membeli buku seperti ini, harus menjadi member atau menunjukkan kartu mahasiswa gitu.

Kalo saya ngobrol sama temen, mereka selalu ngomong, daripada beli, kenapa tidak membudyakan perpustakaan ato gimana gitu. Yap, sepatu, sepakat dan setuju. Tapi apakah sudah ada seperti itu? Perpustakaan yang enak dan pewe buat duduk dan membaca. Ga ada..Konotasi perpustakaan adalah mencari buku tua yang udah ga ada dimana-mana, selain itu tempatnya membosankan karena lembab dan berdebu. Apalagi perpustakaan kota, engga deh saya kesana, bisa-bisa pulang terus bengek.
Nah, apa usul saya untuk menumbuhkan budaya membaca? Sebenarnya ini bukan usul saya sih, tapi saya mengutip dari Mr. Gola Gong, sebagai salah seorang penulis yang paling saya hormati. Beliau adalah pendiri Rumah Dunia, tempat jurnalistik, sastra dan sebagainya. Beliau memberikan beberapa usulan untuk membangun reading habit atau kebiasaan membaca di rumah :

1.Sebelum membangun kebiasaan membaca di luar, biasakan dulu di rumah
2.Orang tua harus memberi contoh membaca bukan memaksa untuk membaca
3.Berikan tempat yang nyaman untuk membaca, selain itu, sebaiknya diberi rak buku-bku di ruang keluarga ato tempat strategis lainnya di rumah
4.Berlanggananlah majalah dan koran yang disukai, serta jangan takut untuk membeli buku, anggap apa investasi (Disadur dari buku “Menggenggam Dunia, Bukuku Hatiku” Tulisan dari Gola Gong)

Tapi ada temen yang nanya juga, gimana kalo udah terlanjur “tua” sebelum terbiasa membaca, saya bingung juga menjawabnya, hehehehe.. Mungkin langkah terakhir itu bisa digunakan, jangan takut membeli buku dan paksakan (dari diri sendiri) untuk mulai membaca

Ada satu quote lagi yang menarik yang mendukung pendapat di atas “Buku adalah pintu menuju hal-hal baru, yang akan membelit tubuh dan jiwa kita begitu memasukinya. Buku juga jendela. Dari keempat sisinya kita bisa menjelajah negeri impian dan menjadikan kita berpikir cerdas, kritis serta membangun rasa percaya diri.”

Saya menulis ini tidak ada maksud menghina ato apa, cuman ingin berbagi aja, mungkin ada juga yang tidak setuju dengan ini.

Note : Diposting dari salah satu warnet ternama di Solo..Gile..Kampusku Surgaku, walo ada cumi tapi inet teteup kuenceng.. ;mrgreen:

Posted in Coretan | 17 Comments »

Selamatkan Indonesia!! (Bedah Buku)

Posted by scooterboyz pada Juli 5, 2008

Hari ini, saya dan bapak mendapat kesempatan dan undangan untuk menghadiri bedah buku “Agenda Mendesak Bangsa : Selamatkan Indonesia” karya Prof. Dr. H. Mohammad Amien Rais. Yang mengisi bedah buku ini adalah Prof. Dr. H. Mohammad Amien Rais (Narasumber), Ryan Sumindar (Moderator) dan tiga orang panelis dari berbagai bidang yaitu Dr. Kodrat Wibowo (Pakar Ekonomi Unpad), Ir. Dadang Muhammad (Pengusaha Agrobisnis Nasional) dan Prof. Dr. Ir. Deny Juanda Puradimaja, DEA. (Kepala Bapeda Jabar). Tajuk dari bedah buku ini adalah Kebangkitan Ekonomi Bangsa. Acara ini bertempat di Hotel Panghegar, Jl. Merdeka No. 2.

Kiri-Kanan: Dadang Muhammad, Kodrat Wibowo, Deny Juanda, Amien Rais, Ryan Sumindar

Saya sendiri belum membaca buku ini, tapi saya sudah banyak membaca reviewnya di Internet. Sangat menarik, seperti biasa, Pak Amien selalu lantang dalam memberikan pendapatnya. Tadi, kata pak Deny Juanda, buku ini bisa membuat amuk massa besar-besaran saat membacanya dan menurut pak Dadang, buku ini marah. Memang, sudah tidak heran lagi, biasa Pak Amien seperti itu. Kalo mau tau hasil lengkap dari bedah buku ini, kita cerita-cerita pribadi aja, ato baca koran bandung besok. Pasti ada, tadi banyak wartawan.

Beberapa kesimpulan yang bisa saya ambil dari pembicaraan ini adalah :

1. Indonesia sudah merdeka dan berdaulat.  Tapi satu kurangnya apabila dibandingkan dengan negara-negara yang mapan itu, yaitu kekuatan dan palang pintu pembatas yang kuat supaya intervensi asing tidak mudah masuk ke negeri ini. Tidak seperti keadaan yang terjadi seperti pada jaman Raja Amangkurat 1 dan 2 yang membuka jalan yang lebarbagi penjajah untuk masuk ke Pulau Jawa.

2. Permasalahan utama dari negeri ini adalah apa yang disebut “State Hijacking Corruption” oleh Pak Amien. Korupsi ini adalah korupsi yang mencengkram “tengkuk” kita tanpa memberi kesempatan kita untuk bergerak. Menurut Pak Amien, memang korupsi itu sudah tidak bisa terhindarkan lagi, memang pada setiap kekuasaan pasti ada korupsi,susah sekali untuk tidak. Tapi yang dicari adalah korupsi yang tidak “menyakiti” rakyatnya. Gimana coba caranya? :mrgreen:

3. Pak Amien juga memberikan beberapa solusi yang cukup menarik, untuk bidang ekonomi, yang paling menarik bagi saya adalah renegosiasi persetujuan-persetujuan yang merugikan rakyat. Beberapa persetujuan yang layaknya dibicarakan ulang misalnya adanya hubungan kerjasama antar korporasi asing dengan negara, seperti pada PT. FreePort Indonesia (walaupun tidak yakin juga saya, apakah freeport apabila kita pegang sendiri akan menjadi maju seperti sekarang.) Nah, masalah renegosiasi ini, ada banyak yang bilang, ini kan udah terlanjur. Menurut Pak Amien (saya kutip terus,sebab narasumber beliau), untuk perjanjian besar seperti ini, ada klausul yang terkenal bahwa perjanjian seperti ini harus dihormati dan ditaati. Tapi ada juga satu klausul yang setingkat dan sama kuatnya yaitu apabila perjanjiannya merugikan orang banyak (rakyat) maka dapat dinegosiasikan ulang (ada bahasa latinnya,tapi saya lupa 😀 ).  Klausul terakhir ini yang banyak dilupakan oleh orang banyak.

Salah satu penanya menanyakan apakah Pak Amien mau jadi presiden lagi. Jawaban dari pak amien sangat diplomatis, “karena tidak ada yang mencalonkan saya, ya saya tidak maju. Wong partai saya aja sekarang ‘Hidup adalah perbuatan’. Kalau ada yang mencalonkan, ya saya maju”.  Eeeeaaaa…Kira-kira beliau mau maju ndak? :mrgreen: . Saya agak geli dengan ‘Hidup adalah Perbuatan’, walau dia tidak ngomong mau nyalon presiden, tapi sinyalemennya sangat kuat.

Sedikit selingan, waktu pulang, door prize diundi. Saya dan bapak saya kebetulan masing-masing dapet satu hadiah. Saya mendapat hadiah blender dan bapak mendapat hadiah juicer jeruk. Dan anda tahu siapa yang paling beruntung dari door prize ini? Jelas Ibu saya.. :mrgreen ..Sebentar lagi bakal banyak jus jeruk di rumah dan banyak jus-jus buah yang lain, hehe..

Posted in Coretan | Dengan kaitkata: , , , , , | 15 Comments »